Kamis, 20 Januari 2011

PR di Bidang Pendidikan

Pemerataan jumlah dan kualitas tenaga pengajar, dan ketegasan hukum, salah satu kunci untuk meningkatkan kualitas pendidikan.Efektivitas penggunaan dana pendidikan, pemerataan jumlah dan kualitas tenaga pengajar, dan ketegasan hukum merupakan beberapa kunci untuk meningkatkan kualitas pendidikan.
Berbagai program sudah dilakukan pemerintah untuk meningkatkan kualitas pendidikan nasional. Sebanyak 20 persen dari APBN untuk pendidikan juga sudah direalisasikan. Selain itu, Departemen Pendidikan juga sudah meluncurkan banyak program seperti program Kejar Paket A dan Paket B, pendidikan wajib sembilan tahun, kemudian program Bantuan Operasional Sekolah (BOS), serta menerbitkan UU BHP, yang semuanya dimaksudkan untuk mencerdaskan masyarakat.
Di bawah kepemimpinan Presiden SBY, masalah pendidikan tetap menjadi salah satu fokus pembangunan. Kini, di bawah pimpinan Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Mohammad Nuh, Depdiknas menetapkan tiga prioritas pendidikan nasional untuk lima tahun mendatang, yakni memperluas akses masyarakat ke pendidikan bermutu, pendidikan terjangkau, dan sekolah berkualitas.
Mengenai program 100 hari dan program lima tahun, Mohammad Nuh berjanji akan memberikan 20.000 beasiswa bagi anak SMA atau SMK dari keluarga kurang mampu. Dan membagikan 17 ribu komputer yang terhubung internet.
“Semua aspirasi dari masyarakat kita tampung, begitu besar harapan masyarakat terhadap kemajuan dunia pendidikan kita. Berbagai usulan, tentu ada skala prioritas dan disesuaikan dengan kondisi saat ini maupun kepentingan yang lebih besar. Dan yang penting, program nasional dengan target pertumbuhan 7 persen yang dicanangkan tercapai. Dengan adanya pertumbuhan sebesar itu, diharapkan berbagai program terealisasi, sesuai harapan masyarakat,” kata Mohammad Nuh di sela-sela acara Pertemuan Nasional (National Summit) 29-31 Oktober 2009 lalu kepada Berita Indonesia.
Mengenai tenaga pengajar, Mendiknas menegaskan tidak akan menambah jumlahnya. Sebab menurutnya, jumlah guru yang ada saat ini sudah lebih dari cukup. Hanya saja, yang menjadi persoalan adalah pola sebarannya yang tidak merata. “Jumlah guru kita sudah cukup, tapi masalahnya distribusi tidak merata. Ada daerah yang kelebihan guru dan ada yang kekurangan,” katanya.
Di samping itu, kualitas dan kompetensi guru juga menurutnya belum merata. M. Nuh lebih jauh menjelaskan, selama ini terjadi disparitas dari segi kewilayahan dan status sosial. “Depdiknas ke depan akan memperkecil disparitas itu tanpa mengorbankan guru yang sudah berkualitas,” katanya.
Sementara menyinggung persaingan global, M Nuh menjelaskan, globalisasi adalah kenyataan yang tidak bisa dihindari. Maka, dampak globalisasi memacu lembaga pendidikan tinggi untuk meningkatkan kualitasnya. Dan pendidikan tinggi, kata Mendiknas, merupakan kunci dalam proses selanjutnya.
Karena ini akan sangat menentukan peran dalam meningkatkan daya saing ekonomi suatu bangsa, maka sistem pendidikan tinggi yang dihasilkan diharapkan dapat menciptakan lulusan yang berdaya saing global.
Itulah harapan Mendiknas M Nuh dan harapan seluruh masyarakat Indonesia. Namun, seperti disebutkan di atas, berbagai kendala masih menyertai pembangunan pendidikan ini, termasuk persoalan yang melekat pada berbagai program disebutkan tadi. Program BOS misalnya. Program yang diluncurkan mulai tahun ajaran 2005/2006 ini, memang dirasa sudah memberi kontribusi positif pada peningkatan prestasi sekolah. Namun, tidak adanya aturan proporsi peruntukan dan penggunaannya, membuat pola dan penggunaannya tidak sama pada setiap provinsi. Akibatnya, dalam beberapa kasus, penggunaannya tidak tepat sasaran.
Seperti diberitakan, hampir di setiap provinsi, dana BOS malah digunakan untuk gaji guru dan tenaga administrasi honorer yang proporsinya 20-40 persen. Dana BOS itu sendiri pada awal anggarannya (2006) senilai Rp235.000 per siswa/tahun untuk SD/MI,  dan tahun 2008 naik lagi menjadi Rp400.000 untuk siswa di perkotaan serta Rp397.000 untuk siswa di kabupaten, sedangkan untuk SMP perkotaan Rp575,000,00 dan SMP kabupaten Rp570,000,00.
Akibat salah sasaran, dana BOS yang dapat dinikmati siswa miskin jadi berkurang. Padahal, walau diperbolehkan, mestinya gaji guru dan pegawai honorer dialokasikan dari dana pemerintah daerah, bukan dari BOS. Adapun dana BOS, mestinya diprioritaskan untuk biaya operasional sekolah, seperti membeli buku referensi, buku teks, kegiatan ekstrakurikuler, serta untuk bantuan siswa miskin.
Permasalahan lain terjadi dalam hal penetapan pendidikan sebagai badan hukum. Kehadiran Undang Undang Badan Hukum Pendidikan (UU BHP) di satu pihak dianggap merupakan pencerahan bagi dunia pendidikan sekaligus sebagai payung hukum bagi penyelenggaraan pendidikan formal di Indonesia. Namun di sisi lain, UU ini dianggap sebagai bentuk kapitalisme dunia pendidikan yang berdampak pada liberalisasi penyelenggaraan pendidikan, dan menggambarkan penghindaran tanggung jawab kewajiban pemerintah pada dunia pendidikan.
Permasalahan berikutnya, mengenai program wajib belajar. Secara nasional, kini diterapkan program wajib belajar 9 tahun. Program ini cukup positif karena bisa mengurangi masyarakat putus sekolah akibat kekurangan biaya dan lain sebagainya. Namun, sejumlah daerah belakangan ini mulai menggalakkan wajib belajar 12 tahun, membuat iri daerah lainnya yang tidak mempunyai APBD yang besar.
Inilah beberapa persoalan pembangunan pendidikan sekarang ini. Masyarakat sangat menyambut baik program pembangunan pendidikan yang ditetapkan pemerintah sekarang ini, namun beberapa permasalahan disebutkan di atas perlu juga terus mendapat perhatian dari pemerintah.RI,RB (Berita Indonesia 72)

Acer Bidik 40 Juta Penduduk Indonesia

 
MAKASSAR, UPEKS-- Jumlah penduduk Indonesia yang berusia 10-19 tahun berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) mencapai 40 juta jiwa. Angka tersebut membuat Acer Group merilis produk terbarunya yang khusus menyasar kalangan pelajar usia 10-19 tahun beserta keluarganya.Public Relations Marketing Communications Department Acer Group Indonesia, Helmy Anam, kepada Upeks, di Hotel Grand Clarion,
Selasa (18/1), mengatakan, potensi pasar di segmen tersebut cukup besar. Sehingga dengan menggandeng AMD dan Microsoft, Acer merilis produk terbaru dilengkapi teknologi terbaru untuk para pelajar.
Menurut Helmy, didampingi Global OEM Account Manager AMD Indonesia, Hendra Sasmita dan Branch Manager Marketing Division Acer Group Indonesia, Riko Gunawan, pada kuartal ketiga 2010 pasar Acer menguasai pasar notebook Indonesia sebesar 35%. Sedangkan secara total, Acer menguasai pasar komputer sekitar 26,7%.
"Kami sudah menjadi market leader di Indonesia, sehingga target kami kedepan adalah mempertahankan maintainance saja," katanya.
Sementara itu, lanjut Helmy, pasar Makassar menjadi pasar potensial terbesar di Indonesia, bahkan masuk dalam kategori 6 pasar terbesar. Selain itu, dari seluruh kota yang ada di Indonesia, Acer fokus membidik tiga kota pendidikan seperti Yogyakarta, Bandung dan Makassar sendiri.
()

Indosat Perkuat Dana CSR

Dukung Pemulihan Bencana Merapi
MAKASSAR, UPEKS-- Bencana Merapi yang melanda beberapa daerah di wilayah Kabupaten Sleman dan Magelang telah menimbulkan banyak kerugian material dan non material, maka PT Indosat memperketat program dan dana Corporate Social Responsibility (CSR). Pasca bencana Gunung Merapi, warga yang terkena dampak saat ini mulai menata kehidupan di desa masing-masing.
Guna mendukung program pemulihan di sekitar area bencana, Indosat melalui program Tanggung Jawab Sosial dan juga donasi dari karyawan, menyerahkan bantuan sarana dan prasarana untuk sekolah dan juga outlet-outlet di sekitar area bencana.
“Kami berkomitmen untuk membantu para korban saat terjadinya bencana dan kami juga terus memantau kebutuhan masyarakat pasca bencana. Mendukung program pemulihan fasilitas di area bencana, Indosat menyerahkan bantuan CSR dan juga bantuan dari karyawan melalui sarana dan prasarana pendidikan untuk sekolah dan juga bantuan untuk outlet-outlet di sekitar area Yogya dan Sleman. Kami berharap bantuan ini dapat membantu masyarakat sekitar untuk dapat kembali beraktivitas seperti sediakala”, demikian disampaikan Djarot Handoko, Division Head Public Relations Indosat.
Program bantuan pemulihan pasca bencana Gunung Merapi, diwujudkan Indosat dengan menyerahkan bantuan berupa komputer dan juga printer untuk memudahkan sekolah-sekolah di area bencana dalam mendokumentasikan kembali data siswa dan data pendukung lainnya yang rusak akibat bencana Merapi. Diharapkan dengan adanya bantuan sarana dan prasarana ini akan mempercepat pulihnya kegiatan belajar mengajar dan para siswa dapat kembali beraktivitas seperti biasa.
Bantuan sarana pendidikan senilai 70 juta yang berasal dari internal karyawan Indosat diserahkan kepada 14 sekolah dari tingkat SD hingga SMA yang berlokasi di wilayah Kecamatan Srumbung dan Dukun (Kabupaten Magelang) dan Kecamatan Cangkringan (Kabupaten Sleman). Sarana pendidikan ini berupa fasilitas komputer dan printer yang diserahkan secara simbolis oleh Janner Hutasoit, Head of Region CJDRO Indosat kepada Suyamsih, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sleman di Yogyakarta.
Bantuan juga diberikan Indosat untuk warga pemilik outlet yang berada di kawasan bencana Merapi. Bantuan diberikan kepada 85 outlet yang berasal dari Kecamatan Srumbung dan Dukun (Kabupaten Magelang), Kecamatan Pakem, Cangkringan dan Turi (Kabupaten Sleman). Bantuan untuk outlet adalah berupa modal kerja bagi outlet yaitu dalam bentuk voucher elektronik dengan nilai total Rp. 80 juta. Bantuan ini diharapkan dapat membantu outlet-outlet untuk kembali melayani pelanggan dan dapat berkembang dengan lebih baik lagi. Selain modal kerja berupa voucher eletronik, Indosat juga menyerahkan bantuan modal kerja berupa 50 buah handphone berikut dengan kartu perdana IM3 dan voucher senilai @Rp. 50 ribu. Bantuan modal kerja ini diharapkan akan mempercepat pulihnya outlet warga yang juga menjadi salah satu sumber pendapatan mereka.
“Kami berharap bantuan ini dapat bermanfaat bagi masyarakat di sekitar area bencana gunung Merapi dan membantu mereka dalam upaya pemulihan kondisi pasca bencana. Kami terus berupaya untuk membantu masyarakat sekitar sebagai komitmen kepedulian perusahaan kepada masyarakat”, demikian Djarot Handoko menambahkan. 

Diane Warren: Penghargaan Ini untuk Ronni Chasen


AFP PHOTO/VALERIE MACON
Diane Warren dan penghargaan Best Original Song-nya dari ajang Golden Globe Awards 2011 untuk lagu ciptaannya, You Havent Seen the Last of Me, dalam film Burlesque

BEVERLY HILLS, KOMPAS.com -- Diane Warren (54), pencipta lagu kenamaan dari AS, memersembahkan penghargaan Golden Globe-nya untuk seorang temannya yang telah tiada, juru bicara dan public relations terkenal di Hollywood, Ronni Chasen.
Pada Golden Globe Awards 2011, yang acaranya digelar di The Beverly Hilton Hotel, Beverly Hills (California, AS), Minggu (16/1/2011) malam waktu setempat, lagu ciptaan Warren yang dinyanyikan oleh Cher untuk film Burlesque, "You Haven't Seen the Last of Me", meraih penghargaan untuk kategori Best Song Original.
"Hal tersedih tentang ini (menerima penghargaan) adalah, ia tak ada di sini untuk merayakan ini (kemenangan) dengan saya," tutur pemilik nama lengkap Diane Eve Warren ini di pentas. "Saya memersembahkan ini (penghargaan) untuk Ronni. Apapun yang saya peroleh, akan saya persembahkan untuk Ronni," tambahnya.
Chasen--yang lahir di Kingston, New York (AS), pada 17 Oktober 1946--tewas ditembak di Beverly Hills, pada 16 November 2010, ketika sedang mengemudi mobilnya sepulang dari pemutaran perdana film Burlesque di Hollywood.
Dalam kategori Best Original Song, "You Haven't Seen the Last of Me" mengalahkan "Bound To You" (karya Samuel Dixon, Christina Aguilera, dan Sia Furler; dinyanyikan oleh Christina Aguilera; film Burlesque); "Coming Home" (ciptaan Bob DiPiero, Tom Douglas, Hillary Lindsey, dan Troy Verges; dibawakan oleh Gwyneth Paltrow; film Country Strong); "I See the Light" (karya Alan Menken dan Glenn Slater; diduetkan oleh Mandy Moore dan Zachary Levi; film Tangled); "There's a Place for Us" (ciptaan Hillary Lindsey, Carrie Underwood, dan David Hodges; dinyanyikan oleh Carrie Underwood; film The Chronicles of Narnia: The Voyage of the Dawn Treader).

Public Relations Kunci di Balik Suksesnya Perusahaan

Menurut Wikipedia, Public Relation (PR) atau nama lain dari Hubungan Masyarakat (Humas) adalah seni menciptakan pengertian publik yang lebih baik. Sehingga dapat memperdalam kepercayaan publik terhadap suatu individu ataupun organisasi.

Sedangkan menurut IPRA (International Public Relations Association), Public Relation adalah fungsi manajemen dari ciri yang terencana dan berkelanjutan melalui organisasi dan lembaga swasta atau publik untuk memeroleh pengertian, simpati, serta dukungan dari mereka yang terkait atau mungkin ada hubungannya dengan penelitian opini publik di antara mereka.

Terlepas dari apapun pengertian profesi Public Relations secara teori ataupun umum, yang jelas, profesi yang satu ini terbilang cukup menarik untuk digeluti, apalagi bagi Anda yang haus akan tantangan dalam setiap melakukan pekerjaan. Pasalnya, untuk menjadi seorang Public Relations yang handal dan profesional ternyata tak semudah yang dibayangkan kebanyakan orang.

Di perusahaan, biasanya profesi ini sangat berpengaruh terhadap kemajuan atau bahkan kemunduran perusahaan. Karena, profesi ini memiliki tanggung jawab yang cukup berat, yaitu membuat program-program untuk mengambil tindakan secara sengaja dan terencana dalam upaya untuk mempertahankan, menciptakan, serta memelihara pengertian bersama antara organisasi dan masyarakat.

Dengan begitu jelas, bahwa keberadaan seorang Public Relations di dalam perusahaan sangatlah penting. Pasalnya, seorang Public Relations merupakan penunjang tercapainya tujuan yang ditetapkan oleh suatu manajemen organisasi.

Untuk bisa menjadi seorang Public Relations yang handal dan profesional dibutuhkan beberapa keterampilan diri, yaitu bisa membuat kesan (image) yang baik, memiliki pengetahuan dan pengertian yang luas, mampu menciptakan ketertarikan terhadap lawan bicara, bisa menerima segala macam masukan, serta bisa meraih simpati.

Selain itu, tujuh puluh persen dari kegiatan seorang Public Relations sangat berhubungan dengan dunia tulis-menulis, selain tugas-tugas lainnya. Di antaranya yaitu:
  1. Merancang pesan tematik. Hal ini sangat penting agar pesan yang disampaikan oleh organisasi memiliki keseragaman atau keterkaitan pesan.
  2. Melakukan segmentasi media. Dimana seorang Public Relations harus mampu memformulasikan keseimbangan saling dukung antara media cetak dan elektronik.
  3. Komunikasi interaktif. Dimana seorang Public Relations biasanya melibatkan masyarakat ataupun konsumen dalam merancang sesuatu yang berhubungan dengan perusahaan atau brand.
  4. Menjaga reputasi perusahaan dan citra produk. Yaitu melalui pemanfaatan kekuatan pesan dan atau kombinasinya.
  5. Iklan multiguna. Yang mana, hal ini dilakukan dengan memanfaatkan momentum psikologis masyarakat.
  6. Penjualan simpatik. Mengambil simpati masyarakat dengan membagi sedikit hasil dari penjualan perusahaan kepada masyarakat.
  7. Melakukan iklan layanan masyarakat.
  8. Pemasaran dari mulut ke mulut.
  9. Ajang pemasaran khusus dimana aktivitas dirancang untuk melibatkan khalayak umum.
  10. Memanfaatkan komunikasi yang akrab untuk pelanggan.
Yang jelas, untuk bisa menjadi seorang Public Relations yang handal dan profesional dibutuhkan keahlian yang cukup memadai dalam diri, selain teori yang didapat dari kampus-kampus. Karena tanggung jawab seorang Public Relations sangatlah berat di setiap perusahaan.

Namun, jangan lantas Anda malah takut untuk menjalani profesi yang satu ini. Pasalnya, jika tekun dan mau belajar untuk menjadi seorang Public Relations yang handal dan profesional, maka peluang untuk sukses sangat terbuka lebar.

Jadi, jangan takut untuk menggeluti profesi yang satu ini. Selamat mencoba dan semoga kesuksesan ada di tangan Anda.

Diane Warren: Penghargaan Ini untuk Ronni Chasen

Senin, 17 Januari 2011 | 15:41 WIB
AFP PHOTO/VALERIE MACON
Diane Warren dan penghargaan Best Original Song-nya dari ajang Golden Globe Awards 2011 untuk lagu ciptaannya, You Havent Seen the Last of Me, dalam film Burlesque
pta lagu kenamaan dari AS, memersembahkan penghargaan Golden Globe-nya untuk seorang temannya yang telah tiada, juru bicara dan public relations terkenal di Hollywood, Ronni Chasen.
Pada Golden Globe Awards 2011, yang acaranya digelar di The Beverly Hilton Hotel, Beverly Hills (California, AS), Minggu (16/1/2011) malam waktu setempat, lagu ciptaan Warren yang dinyanyikan oleh Cher untuk film Burlesque, "You Haven't Seen the Last of Me", meraih penghargaan untuk kategori Best Song Original.
"Hal tersedih tentang ini (menerima penghargaan) adalah, ia tak ada di sini untuk merayakan ini (kemenangan) dengan saya," tutur pemilik nama lengkap Diane Eve Warren ini di pentas. "Saya memersembahkan ini (penghargaan) untuk Ronni. Apapun yang saya peroleh, akan saya persembahkan untuk Ronni," tambahnya.
Chasen--yang lahir di Kingston, New York (AS), pada 17 Oktober 1946--tewas ditembak di Beverly Hills, pada 16 November 2010, ketika sedang mengemudi mobilnya sepulang dari pemutaran perdana film Burlesque di Hollywood.
Dalam kategori Best Original Song, "You Haven't Seen the Last of Me" mengalahkan "Bound To You" (karya Samuel Dixon, Christina Aguilera, dan Sia Furler; dinyanyikan oleh Christina Aguilera; film Burlesque); "Coming Home" (ciptaan Bob DiPiero, Tom Douglas, Hillary Lindsey, dan Troy Verges; dibawakan oleh Gwyneth Paltrow; film Country Strong); "I See the Light" (karya Alan Menken dan Glenn Slater; diduetkan oleh Mandy Moore dan Zachary Levi; film Tangled); "There's a Place for Us" (ciptaan Hillary Lindsey, Carrie Underwood, dan David Hodges; dinyanyikan oleh Carrie Underwood; film The Chronicles of Narnia: The Voyage of the Dawn Treader).

PR adalah bagian dari saya :))